judul

Dagang Kaos Merk Import
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Senin, 04 Oktober 2010

Bila Terjepit, Sniper Harus Rela Bunuh Diri

Sniper Riders 100, Pasukan Khusus Penembak Jitu Kodam I/BB (2)

Setiap sniper dilengkapi dengan lima peluru. Empat untuk ditembakkan ke target, satu lagi untuk diri sendiri. Sniper harus rela bunuh diri bila dalam kondisi terjepit, terjebak musuh misalnya. Sebelum diturunkan ke medan pertempuran, seorang sniper dibekali beberapa senjata. Baik senjata api laras panjang, senjata utama sniper, pistol ataupun senjata tambahan. ”Untuk pistol ini sangat berguna apabila kita kehabisan peluru, maklum senjata sniper hanya bisa diisi dengan lima peluru. Jadi kalau kita terjebak oleh musuh dengan peluru habis, sniper wajib menyisahkan satu peluru yakni, untuk sniper itu sendiri yakni untuk bunuh diri, ketimbang kita ditangkap oleh musuh,” ucap Sertu Haydi Priyono.

Penembak jitu merupakan organ vital bagi sebuah angkatan bersenjata sebuah negara. Di Inggris, satuan snipernya bernama SAS, di Amerika Serikat itu penembak jitunya di miliki Ranger, sedangkan Jerman GSG. Sebagai pasukan penting, perlengkapan persenjataan menjadi sebuah keharusan Tapi sniper di Raider 100 punya keahlian lebih, memanfaatkan fasilitas yang sebenarnya lebih sederhana dibanding para sniper di negara-negara maju. Untuk Penanggulangan Teroris (Gultor), peralatan Sniper Raider 100, jauh ketinggalan ketimbanga yang ada di luar negeri.

Saat ini Sniper Raiders 100 hanya memiliki 8 pucuk senjata laras panjang (untuk sniper) jenis styer dengan amunisi kaliber 7,62 mm, jenis SPR styer kaliber 7,62 mm, SMR SPM 1/LS kaliber 7,62 mm, SMS SPM 1/LB Kaliber 7,62 mm. Jenis SMB QB kaliber 12,7 mm, so mini kaliber 5,56 mm, senapan SS 1 V-1 kaliber 5,56 mm, senapan SS-1 R-5 kaliber 5,56 mm, jenis pistol US 45 kaliber 11 mm dan pistol ISY Kaliber.

“Untuk senjata laras panjang jenis Styer dengan bobot lebih kurang 3 kg ini jarak tembaknya 600 meter. Ini jarak tembak yang maksimal atau efektif jarak ini juga jarak yang mematikan. Apabila kita menembakan senjata tersebut mengenai musuh maka peluruh tersebut akan memecah dada sehingga menewaskan target,” ucap Kepala Seksi Operasi (Kasi Ops) Riders 100, Sertu Haydi Priyono.

Sedangkan untuk senjata api laras pendek itu jarak pendek yang sifatnya tidak mematikan hanya melupuhkan saja.

Sertu Haydi Priyono kemudian membawa wartawan koran ini ke lapangan tembak dimana mereka sering dilakukan latihan menembak. Di lapangan yang ditumbuhi rumput mereka juga harus terbisa dengan kehadiran pacat, binatang pengisap darah yang selalu melekat pada kaki ataupun tubuh sniper.

Usai berkeliling Batalyon, menjelang keberangakatan Pangdam I/BB Mayjen Noer Muis kembali ke markas, Sertu Haydi Priyono mengajak kembali wartawan koran ini kembali ke komando.

Sertu Haydi masih sempat bercerita kalau pasukan Raider adalah pasukan yang didesign dengan berkemampuan sebagai pasukan pemukul reaksi cepat. Pasukanini terdiri dari pasukan antigerilya, perang berlarut, serangan mobile udara dengan helikopter dan penanggulangan teror.

Kemampuan pasukan barat hijau ini setara 3 kali lipat kemampuan batalyon infantri reguler. Saat ini pasukan Raiders ada 10 batalyon di Indonesia yang terdiri 8 batalyon di Komando Daerah Militer (Kodam) yang terdiri pasukan Linud dan non Linud, dan 2 Batalyon Kostrad (non Linud)

Satuan khusus Raiders di TNI AD menjadi dikenal dan akrab dikalangan komando TNI sejak era tahun 1960-an. Raiders sendiri muncul di Sumatera tak lepas dari peran Jenderal Ryamizard Ryacudu yang ketika itu masih menjabat sebagai KSAD.

Pasukan The Raiders ini dibentukoleh TNI AD untuk melakukan penumpasan terhadap gerakan seperatis Garakan Aceh Merdeka yang dikenal dengan GAM, yang ketika itu ingin memisahkan diri dari NKRI.

Sejarah pasukan ini berawal dari munculnya tehnik tempur dan struktur organisasi infanteri modern yang dikenal dengan nama “IFGABA” (Infanteri Gaya Baru) di tubuh TNI AD yang pada saat itu berpatokan pada pelatihan dan struktur organisasi US Army Ranger milik militer AS.




Bahkan keberadaan Kopassus sempat terancam saat itu karena adanya isu bahwa peran Kopassus bisa digantikan dengan IFGABA. Ranger dikenal sebagai pasukan pemukul utama US Army yang bisa dioperasikan lewat darat, laut dan udara juga peperangan konvensional.




Semua itu didapat dari pelatihan dan warisan senior Ranger yang dikenal loyal pada atasan tapi juga bermental baja, disiplin tinggi dan lethal. Jiwa persaudaraan para ranger yang bermarkas di Fort Benning, Georgia ini tak kalah dengan para marinir di USMC walaupun dari segi jumlah personel, Ranger hanyalah sebuah resimen infanteri ke 75 yang anggotanya tak lebih dari 3.000 personel.




Awal mulanya materi pendidikan Raider hanya diperuntukkan kepada Batalyon Linud Kostrad. Gabungan kualifikasi Raider dan Para menghasilkan jenis keahlian tempur baru yaitu Raider Para.




Ini sangat cocok dengan karakteristik prajurit dan satuan Kostrad yang dikenal cepat, keras dan lethal dalam setap pertempuran. Tapi nyatanya pendidikan Raider diujicobakan pertama kali justru kepada personel Yonif 401.




Hasilnya sangat menakjubkan. Dalam setiap operasi menunjukkan peningkatan yang sangat berarti bagi daya gempur pasukan. Maka setelah melalui beberapa inovasi dan perbaikan, pendidikan Raider mulai diadopsi oleh Kostrad untuk pasukan Linudnya.




Karena dinilai cukup membantu dalam taktik tempur dan hasil pertempuran maka akhirnya kualifikasi RAIDER mulai disebarkan kepada satuan Infanteri non linud maupun Banpur non Kostrad pada tahun 1967-1970 an.




Raider adalah kualifikasi pasukan bersifat khusus yang menekankan kepada kemampuan memukul cepat musuh dengan senjata minimal, perang berlarut di hutan, Perang Jarak Dekat, Operasi Raid Rala Suntai (Rawa, Laut, Sungai dan Pantai) dan pengintaian. Pasukan digerakkan dalam regu yang berjumlah 10 orang. Komposisinya mirip 1 regu Infanteri reguler hanya saja ditambah dengan ahli raid dan demolisi.




Pada tahun 1950-1970 an kebanyakan prajurit AD yang ditempatkan di korps Infanteri tidak menempuh ilmu kecabangan Infanteri secara 1 atap di Depo Latihan Pertempuran milik Rindam atau Pusdik Infanteri AD. Kecuali para perwira lulusan AKMIL.




Setelah pendidikan dasar, para prajurit baru yang dicabangkan ke korps Infanteri langsung dimasukkan ke batalyon. Di sanalah mereka dididik lagi (tahap II) sehingga mantap menjadi prajurit infanteri. Itupun tidak ada kurikulum terpadu dan selalu berbau karakteristik dan tradisi batalyon yang berbeda antara 1 dengan lainnya.




Tahun 1980, TNI AD benar-benar memutuskan untuk memusatkan pendidikan serta latihan kecabangan Infanteri di Pusdik Infanteri Cipatat (Untuk Pa, Ba dan Ta untuk wilayah Kodamdan Dodiklatpur Rindam di masing-masing Kodam




Metode pendidikan Raider di era tahun 60 an mirip sekali dengan pelatihan komando RPKAD. Mulai nama materi sampai dengan tradisi ala secako yang tidak mengenal tanda kepangkatan dari tamtama sampai perwira.




Semua digojlok dan dididik standar yang sama sebagai seorang Raider yang keras. Semua harus bisa menjadi pemimpin di tingkat regu, peleton dan kompi. Dan medan latihan mereka berpindah pindah.




Pelatih Raider berasal dari Tim Pelatih Raider Kopassus (RPKAD), dan tim Pelatih Puslatpur (Pusat Latihan Pertempuran) KODAM setempat yang telah lebih dulu memiliki kualifikasi Raider. (cyber.com)