Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Iskandar Hasan mengatakan, di lokasi tewasnya tiga teknisi itu ditemukan sejumlah botol minuman keras, serta obat-obatan. “Tim otopsi menemukan beberapa obat yang belum diketahui jenis dan kegunaannya”, ujar Iskandar di Jakarta, Selasa 14 September 2010,
Polisi meminta keterangan sejumlah saksi, antara lain petugas di mess, tentang kegiatan ketiga warga Rusia itu. "Diharapkan ini clearsupaya tidak jadi masalah kedua negara. Kita juga tidak lihat motif lain. Yang kita lihat adalah penyebab kematian," Iskandar menambahkan.
Alexander Poltorak, Sergei Voronin dan Victor Safonov adalah bagian tim guarantee warranty (perakit) pesawat Sukhoi SU 27 SKM di Makassar. Poltorak adalah ahli sistem hidrolik, Voronin bekerja merakit mesin, dan Safonov adalah ahli radar. Tim Rusia itu terdiri 12 personel. Mereka adalah bagian paket layanan tiga unit Sukhoi yang dibeli Indonesia dari Rusia. Ketiga pesawat tempur itu tiba di Makassar Jumat, 10 September 2010.
Poltorak ditemukan di kamarnya dengan mulut berbusa oleh ketua timnya, Igor, dan segera dilarikan ke UGD rumah sakit Lanud Sultan Hasanuddin. Tapi jiwa Poltorak tidak tertolong. Dia tewas sekitar pukul 09.10. Dua rekannya, Voronin dan Safonov, tewas setelah dilarikan ke rumah sakit Stella Maris.
Akibat Vodka
Kedutaan Besar Rusia di Jakarta mengaku telah mengetahui kabar duka itu. "Kami masih menunggu hasil otopsi," kata Kepala Bagian Konsuler Kedubes Rusia, Vladimir Pronin. Pihaknya juga belum mendapat pemberitahuan resmi penyebab kematian tiga warga Rusia itu. "Kami telah mengirim dokter dari kedutaan untuk otopsi," Pronin menambahkan.
Tim dokter berjumlah lima orang, dan salah seorang dokter sempat bertemu Kepala Rumah Sakit Bhayangkara, Makassar, tempat ketiga jenazah disemayamkan. Setelah melihat jenazah, tim menemui Kepala RS Bhayangkara, dr Purwadi, di ruangan dinasnya. dr Purwadi didampingi Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Sulselbar, dr Budio Prasetyo.
Usai pertemuan yang dilakukan secara tertutup, dr Budio menyatakan tim dokter utusan Kedutaan Rusia cukup puas dengan prosedur otopsi. "Yang kami lakukan sudah sesuai standar internasional," ujar Budio. Prosedur itu antara lain, CT Scan seluruh badan, dan bedah tiga jenazah untuk diambil sampel hati, jantung, lambung dan beberapa bagian tubuh lainnya. Meski demikian, Budio belum membeberkan hasil otopsi ini.
Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Johny Wainal menyebutkan hasil penyelidikan di Tempat Kejadian Perkara (TKP), ditemukan sejumlah botol minuman keras jenis vodka.
Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan, Brigjen I Wayan Midhio memastikan kematian tiga anggota tim perakit itu tidak mempengaruhi penyelesaian perakitan pesawat Sukhoi. Rusia mengirimkan tim sebanyak 40 orang, jadi cukup banyak. Midhio berharap penyelidikan kematian segera dituntaskan, meski penyebab sementara adalah minuman keras.
Perakitan Sukhoi dilakukan di hanggar Skadron Teknik (Skatek) 044 Lanud TNI AU Sultan Hasanuddin. Pekerjaan itu melibatkan 40 teknisi Rusia, dan 20 teknisi dari Skatek 044. Ke 20 teknisi dari Skatek 044 ini baru saja menyelesaikan pelatihan. Tim Rusia terdiri tiga pilot, 11 orang tim guarantee warranty, 12 orang tim assembling, dan sisanya adalah para spesialis pesawat udara.
Tanpa senjata
Indonesia membeli pesawat tempur 10 unit Sukhoi pada 2003. Kontrak awal pengadaan (pembelian) dilakukan pada 24 April 2003 oleh Perum Bulog sebagai pembeli, Mabes TNI sebagai pengguna, dengan Rosoboronexport, suatu BUMN Rusia.
Kontrak pembelian diteken oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini MS Suwandi (ketika itu), pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri. Total harga dibayar Indonesia adalah sebesar US$ 192,20 juta. Pembelian Sukhoi ini adalah tanpa senjata, hanya pesawat saja.
Empat tahun kemudian, Departemen Pertahanan mengumumkan kontrak pembelian Sukhoi jenis SU 27SKM, dan SU 30MK2 dengan harga US$350 juta.
Saat ini terdapat 7 pesawat Sukhoi jenis SU 27SKM dan SU 30MK2. Dengan kedatangan pesawat Sukhoi pada Jumat, 10 September 2010 dan pertengahan September mendatang, Indonesia akan memiliki 10 pesawat Sukhoi. Semuanya ditempatkan di Landasan Utama Sultan Hasanuddin, Makassar.
Indonesia memutuskan membeli pesawat tempur dari Rusia menyusul embargo persenjataan militer dari Amerika Serikat (AS) karena insiden di Santa Cruz, Timor Timur (sekarang Timor Leste) pada 1997. AS juga menuduh TNI menghancurkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pesawat tempur F-16 dan Herkules buatan AS.(np)
Laporan Rahmat Zeena | Makassar
• VIVAnews

